Sapa dalam diam
2009. Kala itu aku tak tahu apa yang akan lakukan di sini. Tembok-tembok dingin itu yang pertama kali menyapaku. 2010. Aku mendengar tembok-tembok itu tertawa kecil. Menertawakanku yang akhirnya mengenal cinta. 2011. Mereka setia menemaniku dan beberapa kawan beristirahat saat jam kuliah usai. Beradu logika untuk lomba, dan menjaga kami dari dinginnya malam udara kampus. Walau mereka mulai menyebalkan. Menghalangi sinyal telepon seluler saat benar-benar ku butuhkan. 2012. Tugas-tugas kuliah mulai menenggelamkanku. Aku sedikit tidak terlalu peduli. 2013. Aku semakin tak peduli. Tak acuhku saat mereka menyapa. 2014. Aku tak ingin berada di sini. 2015. Aku menyapa mereka sesekali dalam setahun ini. Rindu rasa bercengkrama sambil menunggu sore tiba. 2016. Perlahan kami mulai kembali bercengkrama sambil sedikit bernostalgia. Ia menjadi teman terbaikku ketika dosen tak kunjung tiba. Hingga akhirnya mereka bersorak sorai ketika akhirnya aku menyelesaikan kewajibanku. 2017. Aku...