Posts

Sapa dalam diam

2009. Kala itu aku tak tahu apa yang akan lakukan di sini. Tembok-tembok dingin itu yang pertama kali menyapaku. 2010. Aku mendengar tembok-tembok itu tertawa kecil. Menertawakanku yang akhirnya mengenal cinta. 2011. Mereka setia menemaniku dan beberapa kawan beristirahat saat jam kuliah usai. Beradu logika untuk lomba, dan menjaga kami dari dinginnya malam udara kampus. Walau mereka mulai menyebalkan. Menghalangi sinyal telepon seluler saat benar-benar ku butuhkan. 2012. Tugas-tugas kuliah mulai menenggelamkanku. Aku sedikit tidak terlalu peduli. 2013. Aku semakin tak peduli. Tak acuhku saat mereka menyapa. 2014. Aku tak ingin berada di sini. 2015. Aku menyapa mereka sesekali dalam setahun ini. Rindu rasa bercengkrama sambil menunggu sore tiba. 2016. Perlahan kami mulai kembali bercengkrama sambil sedikit bernostalgia. Ia menjadi teman terbaikku ketika dosen tak kunjung tiba. Hingga akhirnya mereka bersorak sorai ketika akhirnya aku menyelesaikan kewajibanku. 2017. Aku...

Buku Telepon

Memori masa kecil Di rumahku dulu, ada sebuah buku kecil yang biasa ditaruh ayah dan ibu di sebelah telepon. Walau bentuknya kecil, tapi halamannya cukup banyak. Di dalamnya berhamburan ratusan nomer telepon penting. Mulai dari saudara, kerabat, sampai tukang servis tv langganan keluarga. Aku sendiri, memiliki buku telepon pribadiku. Isinya hanya nomer-nomer telepon teman sekolah dan tetangga-tetangga yang seumuran denganku. Seingatku waktu itu belum populer istilah telepon rumah. Sebab HP saja waktu itu belum populer. Istilah telepon pada dasarnya merujuk ke telepon rumah. Rasanya senang sekali ketika memiliki banyak nomer telepon teman-teman. Walaupun ketika harus menelpon salah satunya, aku begitu malu sampai-sampai meminta tolong ibuku untuk berbicara terlebih dulu. Bukan tanpa alasan. Karena telepon rumah bukanlah telepon pribadi, maka tidak menutup kemungkinan yang akan mengangkat telepon adalah ibunya atau bapaknya. Dan entah kenapa aku merasa malu untuk berbicara dengan ...